Halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif), tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku,,,,
Apakah Anda mengalami gejala-gejala tersebut??????? Waspadalah!!!!! Skizofrenia mendekati anda…..
Skizofrenia atau dalam bahasa ilmiahnya adalah Schizophrenia adalah suatu gangguan psikosis fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala psikotik yang khas dan oleh kemunduran fungsi sosial, fungsi kerja, dan perawatan diri. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Skizofrenia Tipe I ditandai dengan menonjolnya gejala-gejala positif seperti halusinasi, delusi, dan asosiasi longgar, sedangkan pada Skizofrenia Tipe II ditemukan gejala-gejala negatif seperti penarikan diri, apati, dan perawatan diri yang buruk.
Gejala
Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:
- Gejala-gejala Positif
Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain. - Gejala-gejala Negatif
Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).
- Riwayat skizofrenia dalam keluarga
- Perilaku premorbid yang ditandai dengan kecurigaan, eksentrik, penarikan diri, dan/atau impulsivitas.
- Stress lingkungan
- Kelahiran pada musim dingin. Faktor ini hanya memiliki nilai prediktif yang sangat kecil.
- Status sosial ekonomi yang rendah sekurang-kurangnya sebagian adalah karena dideritanya gangguan ini
Penyakit
Skizofrenia Tidak ada jalur etiologi tunggal yang telah diketahui menjadi
penyebab skizofrenia. Penyakit ini mungkin mewakili sekelompok heterogen
gangguan yang mempunyai gejala-gejala serupa. Secara genetik,
sekurang-kurangnya beberapa individu penderita skizofrenia mempunyai kerentanan
genetic herediter. Kemungkinan menderita gangguan ini meningkat dengan adanya
kedekatan genetic dengan, dan beratnya penyakit, probandnya. Penelitian
Computed Tomography (CT) otak dan penelitian post mortem mengungkapkan
perbedaan-perbedaan otak penderita skizofrenia dari otak normal walau pun belum
ditemukan pola yang konsisten. Penelitian aliran darah, glukografi, dan Brain
Electrical Activity Mapping (BEAM) mengungkapkan turunnya aktivitas lobus
frontal pada beberapa individu penderita skizofrenia. Status hiperdopaminergik
yang khas untuk traktus mesolimbik (area tegmentalis ventralis di otak tengah ke
berbagai struktur limbic) menjadi penjelasan patofisiologis yang paling luas
diterima untuk skizofrenia.
Terapi
Penyakit Skizofrenia
Obat neuroleptika selalu diberikan, kecuali obat-obat ini terkontraindikasi,
karena 75% penderita skizofrenia memperoleh perbaikan dengan obat-obat
neuroleptika. Kontraindikasi meliputi neuroleptika yang sangat antikolinergik
seperti klorpromazin, molindone, dan thioridazine pada penderita dengan
hipertrofi prostate atau glaucoma sudut tertutup. Antara sepertiga hingga
separuh penderita skizofrenia dapat membaik dengan lithium. Namun, karena
lithium belum terbukti lebih baik dari neuroleptika, penggunaannya disarankan
sebatas obat penopang. Meskipun terapi elektrokonvulsif (ECT) lebih rendah
disbanding dengan neuroleptika bila dipakai sendirian, penambahan terapi ini
pada regimen neuroleptika menguntungkan beberapa penderita skizofrenia.
Tujuannya
adalah :
- Pendidikan pasien dan keluarga tentang sifat-sifat gangguan skizofrenia.
- Mengurangi rasa bersalah penderita atas timbulnya penyakit ini. Bantu penderita memandang bahwa skizofrenia adalah gangguan otak.
- Mempertinggi toleransi keluarga akan perilaku disfungsional yang tidak berbahaya. Kecaman dari keluarga dapat berkaitan erat dengan relaps.
- Mengurangi keterlibatan orang tua dalam kehidupan emosional penderita. Keterlibatan yang berlebihan juga dapat meningkatkan resiko relaps.
- Mengidentifikasi perilaku problematik pada penderita dan anggota keluarga lainnya dan memperjelas pedoman bagi penderita dan keluarga.
Organisasi
Pendukung
Komunitas Peduli
Skizofrenia Indonesia(KPSI) adalah sebuah komunitas pendukung Orang Dengan
Skizofrenia (ODS) dan keluarganya yang memfokuskan diri pada kegiatan
mempromosikan kesehatan mental bagi masyarakat Indonesia pada umumnya.
Keberhasilan ODS dalam pemulihan sangat tergantung kepada pemahaman keluarga
tentang skizofrenia.
Komunitas ini juga bertujuan memberikan informasi
tentang skizofrenia yang tepat kepada masyarakat guna memerangi stigma negatif
terhadap ODS. Orang Dengan Skizofrenia sama sekali tidak membahayakan, bahkan
mereka sangat membutuhkan dukungan semua orang. Dengan adaptasi yang tepat,
mereka juga dapat bekerja dengan baik seperti orang normal.
Kegiatan penting yang dilakukan komunitas ini adalah
menterjemahkan swadaya atas artikel-artikel penting tentang skizofrenia dan
panduan-panduan keluarga. Kegiatan edukasi berupa kopi darat juga dilakukan
untuk saling berbagi pengalaman antar keluarga maupun narasumber. Rencananya
KPSI juga akan menerbitkan buku kisah sejati tentang dukungan keluarga.
Dikutip dari berbagai sumber
1 komentar:
kalo penjelsannya pake bahasa sehari2 kyknya lebih menarik gan..
Posting Komentar